LAHAT, TRIBUNEPOS – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Padjadjaran memaparkan hasil kajian tentang model kolaborasi kelembagaan ekonomi di kawasan transmigrasi Kikim, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Rabu (03/12/2025) Lalu. Kajian tersebut menyoroti lemahnya sinergi antarlembaga ekonomi lokal yang berdampak pada belum optimalnya pengembangan ekonomi kawasan.
Kajian dilakukan selama kurang lebih tiga bulan melalui wawancara, penyebaran angket kepada aktor kelembagaan ekonomi, observasi lapangan, serta kolaborasi pengelolaan data bersama TEP IPB University dan TEP Universitas Diponegoro. yg dipimpin Aat Ruchiat Nugraha dengan anggota Bagaskoro Prasetyo Utomo, Alya Azzahra Widyaningrum, Muzammil, dan Andreas Totti Sianipar.
Ketua Tim TEP Unpad, Aat Ruchiat Nugraha, mengatakan Hasil kajian menunjukkan kelembagaan ekonomi di kawasan transmigrasi Kikim, seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Unit Desa (KUD), kelompok tani, dan pelaku usaha mikro, masih berjalan sendiri-sendiri tanpa pola kolaborasi yang terintegrasi. Padahal, masing-masing lembaga memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung perekonomian masyarakat.
“kolaborasi kelembagaan merupakan kunci untuk mendorong efektivitas pembangunan ekonomi di kawasan transmigrasi. sinergi antarlembaga dan antardesa akan mempermudah pencapaian kemandirian ekonomi, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya petani”( Ujar Aat)
Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Lahat mengapresiasi kajian yang dilakukan TEP Unpad. Kepala Bidang Transmigrasi, Jhony Andela, mengatakan bahwa hasil kajian tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi aktual kelembagaan ekonomi di kawasan transmigrasi Kikim dan dapat menjadi rujukan kebijakan dalam peningkatan kapasitas kelembagaan ekonomi di wilayah tersebut.
TEP Unpad berharap hasil kajian ini dapat menjadi acuan dalam penguatan ekosistem kelembagaan ekonomi sekaligus mendorong kawasan transmigrasi Kikim berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Jurnalis: Yanto












