Scroll untuk baca artikel
BeritaKesehatanNasionalPolisiViral

Liput MBG, Wartawan Dicekik Pegawai SPPG

×

Liput MBG, Wartawan Dicekik Pegawai SPPG

Sebarkan artikel ini
Dua wartawan dari Warta Kota, Munir dan Kiki jadi korban kekerasan pegawai SPPG saat liput dapur MBG. (Foto: Tribunepos) 

JAKARTA, TRIBUNEPOS – Selasa pagi, suasana di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, tak lagi sekadar hiruk-pikuk aktivitas sekolah dan pedagang. Sebuah insiden kekerasan terjadi ketika dua wartawan dari Warta Kota, Munir dan rekannya Kiki, hendak meliput Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa SDN 01 Gedong.

Insiden bermula saat Munir dan Kiki mencari lokasi SPPG Gedong 2.

“Saya cek Google Maps cuma ada SPPG Gedong 2, gangnya tepat di seberang Kampus Unindra. Saat saya sampai, si bapak penjaga menyuruh masuk, tapi dikira tukang cuci ompreng,” kata Munir, Selasa lalu. 

Ketika bertanya ingin bertemu Kepala SPPG, mereka justru disuruh keluar dan sempat merekam perlakuan pegawai yang mengusir mereka.

Saat menunggu di luar, Munir merekam kedatangan mobil SPPG Gedong 2. Rekaman itu memicu kemarahan oknum pegawai, yang mendekati Munir dan Kiki.

“Tiba-tiba bapak yang sudah kepalkan tangannya mau pukul saya, malah cekik saya dan Kiki,” ungkap Munir. Rekan-rekan pegawai lain akhirnya memisahkan pelaku.
Dua wartawan dari Warta Kota, Munir dan Kiki jadi korban kekerasan pegawai SPPG saat liput dapur MBG. (Foto: Tribunepos)

Kapolsek Pasar Rebo, AKP I Wayan Wijaya, membenarkan laporan penganiayaan tersebut. Korban telah datang ke Polsek untuk membuat laporan dan menjalani visum.

Kekerasan ini terjadi di tengah dugaan keracunan makanan MBG yang menimpa 20 siswa SDN 01 Gedong. Anak-anak mengalami muntah-muntah setelah mengonsumsi menu yang disediakan sekitar pukul 07.00 WIB, pasca-olahraga pagi.

“Guru langsung menghentikan pemberian makan ketika beberapa anak menunjukkan gejala. Akhirnya tercatat 20 siswa keracunan,” ujar Wayan.

Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana transparansi penyediaan MBG dan perlindungan terhadap jurnalis yang meliput isu publik. Di era digital, informasi dan kritik dapat tersebar cepat, namun risiko fisik bagi peliput di lapangan tetap nyata.

MBG yang seharusnya menjadi program gizi untuk anak sekolah, kini juga menjadi simbol konflik antara kepentingan publik, tanggung jawab penyedia, dan hak wartawan untuk meliput.

Di Pasar Rebo, video, laporan, dan kecemasan orang tua bergabung menjadi narasi yang menegangkan, di mana satu porsi makanan bergizi bisa memicu gejolak besar. **