Scroll untuk baca artikel
BeritaOgan IlirSumsel

‘Sedekah Perusuran’ Desa Tanjung Baru Sabet Juara I Stand Budaya Festival Literasi Ogan Ilir 2025

×

‘Sedekah Perusuran’ Desa Tanjung Baru Sabet Juara I Stand Budaya Festival Literasi Ogan Ilir 2025

Sebarkan artikel ini

OGAN ILIR, TRIBUNEPOS — Pameran budaya yang digelar Dinas Perpustakaan Ogan Ilir, Kamis (20/11/2025), berubah menjadi ajang unjuk identitas 16 kecamatan.

Setiap kecamatan diminta menampilkan budaya lokalnya, namun satu stand Desa Tanjung Baru, Ogan Ilir, mencuri perhatian juri, tradisi Sedekah Perusuran dari Kecamatan Indralaya Utara menyabet juara pertama.

Di antara deretan kuliner tradisional, simbol-simbol ritual, dan pernak-pernik adat, stan ini menyajikan satu rangkaian tradisi yang masih dijalankan warga hingga kini.

Di meja pameran, pengunjung disambut “kerbau-kerbauan” hidangan berbentuk kerbau yang dibuat dari ketan. Sebagian berisi telur, sebagian tidak.

Perbedaan isian melambangkan jenis kelamin, jantan dan betina.

Hidangan ini merupakan bagian inti dalam rangkaian Sedekah Perusuran, tradisi syukuran desa yang diwariskan turun-temurun.

Berjejer pula serabi 40, serabi hitam, beras kunyit, hingga dogan. Pengunjung juga dibuat penasaran oleh air langir, air berisi bunga-bungaan yang telah diberi doa oleh para sepuh desa.

Semua unsur itu dirangkai untuk menunjukkan bagaimana tradisi ini berlangsung di Desa Tanjung Baru.

Menurut penilaian panitia, presentasi Indralaya Utara menjadi salah satu yang paling autentik dan unik. Hasilnya, stan ini dinobatkan sebagai juara pertama.

Kepala Desa Tanjung Baru, Ogan Ilir, bernama Budi Harjaya, S.Sos, menyatakan penghargaan ini bukan sekadar soal menang, tetapi penguatan komitmen pada warisan budaya.

Ia berharap tradisi Sedekah Perusuran tetap bertahan di tengah tekanan modernisasi.

“Harapan kami, adat ini terus hidup walaupun tantangan zaman semakin besar. Tradisi ini juga menjadi media silaturahmi bagi warga kami,” ujarnya.

Pameran budaya ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, jejak budaya lokal tetap memiliki ruang, selama masih ada yang menjaga dan merawatnya. (*)

Jurnalis: Reval Meraldi