Di saat yang sama, harga Pertalite tetap bertahan di level Rp 10.000 per liter.
Sekilas kebijakan itu terlihat melindungi kelompok masyarakat bawah. Akan tetapi, celah harga antara Pertalite dan Pertamax kini melebar menjadi Rp 6.250 per liter. Selisih tersebut menciptakan insentif yang sangat besar bagi konsumen untuk beralih ke BBM subsidi.
Persoalannya, tidak semua pengguna Pertamax bisa dengan mudah berpindah ke Pertalite. Aturan pembelian subsidi yang semakin ketat melalui sistem registrasi dan QR Code membuat sebagian konsumen praktis terjebak di jalur BBM nonsubsidi.
Akibatnya, kelompok yang berada di tengah—tidak cukup miskin untuk menerima subsidi, tetapi juga tidak cukup kaya untuk mengabaikan kenaikan harga—menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Komentar