Scroll untuk baca artikel
BeritaDesaNasionalOgan IlirPariwisataPolitikSumsel

Wisata Kebun Anggur Burai Jadi Primadona Baru di Ogan Ilir, Rasakan Sensasi Petik Sendiri dari Pohon

×

Wisata Kebun Anggur Burai Jadi Primadona Baru di Ogan Ilir, Rasakan Sensasi Petik Sendiri dari Pohon

Sebarkan artikel ini
Wisatawan lokal sedang menikmati sensasi memetik buah anggur dari kebun di wisata kebun anggur Desa Burai, Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumsel. (Foto: Tribunepos)
Penulis: Tri Andini Firdanti/ Jurnalis Tribunepos

OGAN ILIR, TRIBUNEPOS – Pagi itu, Kamis (23/10/2025), udara Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, terasa lebih segar dari biasanya. Embun masih menempel di daun ketika aroma tanah basah berpadu dengan wangi buah yang baru matang.

Di tengah hamparan hijau desa, berdiri deretan rumah tanaman berkerangka baja ringan. Di sanalah Kebun Anggur Burai tumbuh menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang kini ramai dikunjungi warga.

“Silakan masuk, boleh langsung lihat dan petik sendiri,” sapa ramah Wahasul, pengelola kebun sekaligus perawat utama tanaman anggur itu, Kamis (23/10/25). 

Sehari-hari, ia menjaga, memangkas, hingga menyiram pohon anggur yang menjuntai rapi di dalam greenhouse.

Di bawah atap plastik bening itu, ratusan tandan anggur bergelantungan seperti permata ungu yang berkilau diterpa cahaya matahari. Jenisnya beragam, ada Akademik, Basanti, Tamaki, Kew BK, Jupiter, Holiodor, Taldun, hingga Everest — masing-masing punya karakter dan rasa tersendiri.

“Panen dilakukan setiap empat bulan sekali,” ujar Wahasul sambil meneliti daun muda yang baru tumbuh.
“Kalau sudah matang sempurna, pengunjung bisa memetik sendiri dan langsung beli dari pohonnya.”

Erik Asrillah, Kepala Desa Burai, mengatakan, Kebun Anggur Burai tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana belajar. Banyak pengunjung datang bersama keluarga atau rombongan sekolah untuk mengenal cara budidaya anggur tropis.

Dengan tiket masuk Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak-anak, pengunjung bisa berkeliling kebun, berfoto, dan tentu saja mencicipi hasil panen.

“Harga anggur hasil panen kami Rp10.000 per gram. Tapi yang paling dicari bukan cuma buahnya, melainkan pengalamannya,” kata Erik tersenyum.

Dibangun di atas lahan desa yang dulunya tidak produktif, kebun ini kini menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi warga Burai.

Beberapa warga ikut membantu dalam perawatan, pembuatan pupuk organik, hingga penjualan hasil panen.

Menurut Erik, keberadaan wisata kebun anggur ini juga menumbuhkan semangat gotong royong.

“Dulu lahan ini sepi, sekarang ramai dikunjungi orang dari luar daerah. Kami jadi semangat menata kampung agar lebih indah,” ujarnya.

Di sudut kebun, anak-anak tampak berlari kecil di antara deretan tiang penyangga tanaman, sementara orang tua mereka sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel.

Suara tawa dan percakapan berpadu dengan kicau burung, menciptakan suasana damai yang jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk kota.

Kebun Anggur Burai kini menjadi bukti bahwa inovasi bisa tumbuh dari desa. Dari tanah yang sederhana, lahir gagasan segar yang bukan hanya menghasilkan buah, tapi juga harapan baru bagi warganya.

“Yang penting bukan seberapa banyak panennya,” tutur Erik menutup pembicaraan, “tapi seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.” pungkasnya. 

(*)